Jumat, 12 Februari 2016

2 Sisi Mata Uang Kekuasaan

Kekuasaan Bagaikan Lokomotif Kereta

Di antara keistimewaan penguasa adalah pengaruh yang diakibatkan kebijakannya. Jika seorang rakyat hendak makan, lalu memilih nasi atau babi, maka perbuatan itu hanya berakibat pada dirinya. Berbeda halnya dengan penguasa. Ketika ia membuat kebijakan, dampaknya akan dirasakan seluruh rakyat di negaranya, bahkan di negara lain. Bisa jadi, tidak hanya dirasakan pada saat itu namun hingga beberapa generasi sesudahnya.

Ketika penguasa menerapkan Undang-undang yang melarang miras, pornografi, atau riba; berbagai perbuatan maksiat itu akan berkurang atau bahkan lenyap dari kehidupan umum. Demikian pula ketika penguasa menerapkan #syariah secara total dan menjatuhkan sanksi tegas kepada orang yang melanggarnya, tentu akan berakibat pada ketaatan rakyat terhadap syariah. Tak mengherankan jika pemimpin adil mendapatkan pahala yang amat besar.

Para pemimpin yang adil itu disebut pertama dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Swt, ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya pada Hari Kiamat kelak (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad)

Sebaliknya, jika penguasa menerapkan UU yang mengizinkan aneka perbuatan maksiat, dipastikan kemaksiatan akan marak di dalam kehidupan masyarakat. Dia tidak hanya berdosa atas perbuatannya, namun juga atas kegiatan maksiat yang dilakukan rakyatnya. Kelak para penguasa yang menyesatkan akan dituntut orang-orang yang tersesatkan agar mendapatkan azab dua kali lipat dan laknat yang besar (lihat QS al-Ahzab [33]: 68)

Berpijak dari ayat ini, seorang Muslim hanya akan berminat menjadi pemimpin dalam sistem yang menerapkan syariah. Ketika sistemnya bukan syariah, maka di hatinya sama sekali tidak terbetik keinginan menjadi penguasa, kecuali ia mampu mengubahnya.

Bagaikan kereta, kekuasaan di sistem kufur adalah lokomotif yang membawa berbagai gerbong kemaksiatan dan kemungkaran, yang mengantarkan masinis dan penumpangnya ke neraka yang penuh siksa.

Rabu, 10 Februari 2016

RIBA

Mewaspadai Dosa Riba

Muslim manapun sejatinya tahu bahwa zina adalah salah satu dosa besar. Allah SWT menyebut zina sebagai kekejian (fâhisyah) dan jalan yang buruk (sâ-a sabîla) (Lihat QS al-Isra’ [17]: 38). Namun, tidak banyak yang mengetahui, ada dosa yang jauh lebih besar daripada zina. Karena itu, pasti azab bagi pelakunya pun lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada yang dialami oleh para pezina. Itulah riba!

Tentang dosa riba bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan dosanya adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya sendiri (HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam Su’ab al-Imân)

Zina adalah #dosa besar. Apalagi menzinai ibu sendiri, tentu lebih besar lagi dosanya. Namun, kata Nabi SAW, itu baru setara dengan dosa #riba yang paling ringan. Lalu bagaimana dengan dosa riba yang paling berat?

Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang, sementara ia tahu, adalah lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Satu dirham saat ini hanyalah setara dengan kira-kira Rp 60.000 saja (dinar-online. com, 10/2/2016). Dengan kata lain, seseorang yang memakan harta hasil riba hanya Rp 60.000 saja sama dengan telah berzina dengan 36 pelacur. Lalu bagaimana dengan harta yang mengandung riba yang jumlahnya lebih dari itu: jutaan hingga milyaran rupiah?

Andai disejajarkan dengan hukuman bagi pezina, berapa puluh, berapa ratus bahkan berapa ribu kali pelaku riba harus dirajam? Bagaimana pula dengan azab yang bakal dia rasakan di akhirat? Tentu amat dahsyat dan mengerikan!

Mau ridho Allah? Tinggalkan riba!

Homo dan konco2nya

Laknat Bagi Pelaku Liwath (Sebuah Kajian Hadits)

Para ulama menukil dalil-dalil dari as-Sunnah yang mengecam perbuatan liwâth, yakni perbuatan homoseksual (#gay), lesbianisme, dan biseksual (orientasi seksual ganda), sebagaimana yang dipraktikkan kaum Luth. Dalil-dalil tersebut menunjukkan secara jelas keharaman dari semuanya.

Salah satunya hadits Nabi SAW, yakni sabda beliau, “Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dll)

Hadits di atas merupakan kecaman Rasulullah SAW atas perbuatan liwâth. Kecaman tersebut diulang sebanyak tiga kali untuk menunjukkan penekanan (tawkiid) atas kecaman tersebut, dan faidahnya menafikan keraguan atas kebenaran kecaman dalam hadits tersebut.

Kata la’ana (laknat,Ind. ; لعن) mashdarnya adalah al-la’nu, yakni at-ta’dzîb (siksaan). Imam ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan bahwa, "orang yang terlaknat itu terhempas dan terjauhkan masuk ke dalam jalan kemurkaan. Ia mendapat laknat dari Allah berupa siksa di akhirat, dan di dunia terputus dari rahmat dan taufik-Nya"

Dalam ilmu ushul fikih kata laknat ini pun menjadi indikasi keharaman perbuatan, bahkan indikasi bahwa ia termasuk dosa besar. Al-Qadhi ’Iyadh (w. 544 H) menjelaskan, “Dan sungguh para ulama telah berdalil bahwa hal-hal dimana kata laknat menyertainya maka ia termasuk dosa besar”

Penjelasan di atas merupakan salah satu dari sekian banyak argumentasi syar’i yang membatalkan ‘pembelaan’ (penyesatan) kaum #liberal yang sesat menyesatkan atas perbuatan keji praktik #LGBT. Kecaman-kecaman yang diungkapkan secara jelas dalam hadits di atas, jelas mengandung celaan yang berfaidah pada keharamannya dalam Islam.

Anak kecil jg tau,  jeruk kok makan jeruk!

SABAR

Nafāis Tsamarāt: Dua Jenis Sabar

Dalam kitab Al-Yatīmah, Ibn Al-Muqaffa’ mengatakan: “Sabar itu ada dua jenis: Kejahatan yang menimpa fisik, dan kedermawanan yang menimpa jiwa. Bukanlah kesabaran jika orangnya dipuji sebagai seorang yang fisiknya kuat berusaha dan bekerja keras, karena ini termasuk sifat keledai. Namun kesabaran itu bagi orang yang mampu mengendalikan diri, mampu memikul setiap urusan, serta tabah memelihara dan menjaga semuanya.” (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn – Karya Al-Mawardi)

Sesungguhnya sabar itu adalah sabar atas bencana, sabar dengan qadha’ (keputusan Allah), yang membuat kamu semakin teguh, tidak membuat kamu labil; semakin membuat kamu berpegang teguh pada al-Kitab, tidak membuat kamu berpaling darinya dengan dalih beratnya musibah yang menimpamu.

Sabar adalah sesuatu yang membuat seseorang bertambah dekat dengan Tuhannya. Tidak membuat seseorang semakin jauh dari Tuhannya. “Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim’.” (TQS. Al-Anbiyā’ [21] : 87)

Sesungguhnya sabar itu adalah yang mempertajam misi, dan yang mendekatkan jalan ke surga. Sebagaimana kesabaran Bilal, Khubab, dan keluarga Yasir, “Tetaplah sabar, keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga”

Seperti kesabaran generasi pertama yang cemerlang dan diberkati, yaitu para sahabat Rasulullah, yang jujur dan terpercaya; seperti kesabaran para sahabat yang menyaksikan perjanjian. Mereka yang diboikot di bukit, mereka yang hijrah ke Habasyi, dan mereka yang dikejar-kejar karena mereka berkata “Allah Tuhan Kami”

Seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar ketika mereka berjihad melawan orang-orang musyrik, Persia dan Romawi; seperti kesabaran tawanan perang kelompok Abdullah bin Abu Khudafah; seperti kesabaran para Mujahid yang beriman, yang benar dengan keimanannya.

Pemuda itu kita?

Yang Muda, Yang Berjuang!

Melihat potret generasi muda saat ini menghadirkan kepiluan tersendiri. Penetrasi budaya Barat telah berhasil menundukkan sebagian generasi muda kaum muslimin, hingga menjadikan cara berpikir Barat termanifestasi dalam sikap dan perilaku nyata kesehariannya.

Padahal pemuda merupakan sebuah sosok yang mempunyai peranan penting dan sangat strategis dalam sebuah peradaban. Jika kita mengkaji sejarah perjuangan bangsa manapun, maka pemuda senantiasa memegang peranan yang sangat menentukan.

Atas kondisi pemuda saat ini, menjadi tanggung jawab para pemuda Islam untuk melakukan perubahan dalam membangkitkan kaum Muslim di tengah keterpurukannya.

Perubahan bukan hanya membutuhkan semangat dan tekat yang besar, namun juga harus memiliki pemikiran mendasar akan problematika umat dan solusi pemecahannya. Maka sudahlah tentu akidah Islam yang harus menjadi jalan hidup dan dasar perubahan.

Dengan menjadikan Islam sebagai landasan berpikir, maka tumbuh pemuda-pemuda yang dalam jiwa dan pikirannya berkiblat pada Islam. Para pemuda yang tidak saja baik dalam aktivitasnnya, namun shahih secara ideologis.

Pemuda seperti inilah yang akan bergerak dan memperbanyak diri di tengah masyarakat untuk menyeru dan mengajak masyarakat hingga mereka menjadi bagian aktif dari perjuangan mengembalikan kehidupan #Islam.

Pemuda pejuang #Islam menjadi garda terdepan dalam mengantarkan umat menuju gerbang kebangkitan dan kemuliaan dengan jalan hidup Islam. Hingga tegaknya kehidupan Islam dengan #khilafah, institusi penerap #syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

Ingat firman Allah SWT dalam Al-Baqarah : 20 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Selasa, 09 Februari 2016

Unreasonable Fear

Kita mungkin sering sekali mendapatkan fenomena baru,  sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya adalah apa yang akan tetsaji berikut ini, sebuah fenomena yang bisa kita sebut sebagai fenomena “unreasonable fear”, ketakutan yang nggak beralasan.

“Gimana nanti kalau saya udah nikah lalu saya nggak bisa membiayai keluarga saya?”

“Kalau syari’at Islam ditegakkan, nanti ada potong tangan, rajam dan pluralitas nggak terjaga, non-muslim akan dimarjinalisasi!”

“Bayangkan kalau tidak ada partai Islam di pemerintahan, dan tidak ada demokrasi, maka gerakan Islam akan diberangus habis, karena itulah kalian harus berterimakasih pada kami dan pada demokrasi!”

Nah, pernyataan-pernyataan seperti inilah yang saya kelompokkan sebagai unreasonable fear. Terkadang kita selalu menakutkan sesuatu yang belum jelas atau belum pasti, sedangkan bahaya di depan mata yang sudah kita alami tidak kita rasakan. Kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu sedangkan menafikkan sesuatu yang sudah tentu. Mari kita mulai kajiannya:

1. “Gimana nanti kalau saya udah nikah lalu saya nggak bisa membiayai keluarga saya dengan layak (miskin)?”

Ini adalah contoh sebuah pernyataan yang belum jelas, karena ciri-ciri pernyataan yang belum jelas mengandung kata-kata seperti: bagaimana nanti… seandainya… bila… andai saja… kalaulah… dan yang semacam dengannya. Berarti ketika seseorang berbicara seperti ini, dia menunjuk pada masa depan (yang tentu saja belum jelas). Unreasonable fear adalah menakutkan sesuatu yang belum jelas tetapi malah menafikkan yang sudah jelas. Ok, kalau ada seseorang yang menyatakan seperti diatas, maka itu adalah kemungkinan masa depan yang belum jelas, tetapi ada fakta yang sudah jelas yaitu: dia belum nikah dan dia belum bisa hidup dengn layak (miskin)!

Banyak orang yang belum menikah beralasan belum cukup materi-lah, belum siap-lah, belum mantap-lah, belum kaya-lah. Itu semua saya katakan unreasonable fear. Pertanyaannya adalah: apakah tidak menikah berkorelasi dengan harta? jawabannya tidak ada korelasinya. Artinya  dia mengkhawatirkan seandainya dia menikah maka dia akan menanggung resiko begini dan begitu (hal-hal negatif), tetapi tidak pernah memikirkan resiko yang dia tanggung ketika dia tidak menikah (hal-hal negatif).
2. “Kalau syari’at Islam ditegakkan, nanti ada potong tangan, rajam dan pluralitas nggak terjaga, non-muslim akan dimarjinalisasi!”

Sama seperti pernyataan ini yang menakutkan sesuatu yang belum pasti dan semua pernyataan ini didasarkan pada asumsi bukan fakta. Yang ditakutkan, yaitu kengerian yang ditimbulkan penerapan syari’at Islam adalah belum pasti, malah fakta yang sudah terjadi tidak ditakutkan. Fakta membuktikan justru ketika dalam situasi tidak diterapkannya syari’at Islam, kriminalitas dan kekacauan dimana-mana dan jumlahnya sangat besar.

Data dari kepolisian misalnya, menyatakan selama Tahun 2006 terjadi tindak pidana aborsi sekitar 3,3 juta kasus dan perkosaan meningkat 200%. Data di LPA (Lembaga Pemasyarakatan Anak) Tangerang menunjukkan bahwa kejahatan seksual menempati urutan kedua setelah narkoba.

Di Jakarta, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono mengatakan, kejahatan di DKI Jakarta terjadi setiap 9 menit 21 detik. Hal ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya, 9 menit 33 detik. Jenis-jenis kejahatan yang dilakukan, antara lain, pemerkosaan, pemerasan dan pengancaman, pembunuhan, perjudian, pencurian kendaraan bermotor dan lainnya.

Indonesia juga merupakan negara teratas dibidang cybercrime (UNESCO, 2007). Di dunia internasional juga tersedia fakta yang tidak berbeda, American Demographic Magazine menyampaikan tersedia tidak kurang dari 4,2 juta website porno yang 100 ribu di antaranya pornografi anak dan 89% di antaranya berisi kekerasan seksual remaja melalui chat room.

Pada tahun 2006 lalu Kompas sempat mengeluarkan hasil survei yang sangat mengejutkan, yaitu 54% remaja Kota Kembang pernah berhubungan seks, persentasenya paling tinggi dibandingkan kota-kota besar lain, seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%).

Komnas Perlindungan Anak (2008) mennyampaikan hasil survei mereka kepada anak SMP, hasilnya 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film porno 93,7 persen mengaku pernah berciuman serta happy petting alias bercumbu berat, dan yang lebih parah lagi 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi

Secara keseluruhan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira menyebutkan, jika sebelumnya kasus konvensional seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian kasus dari 153.392 kasus, kini menjadi 155.413 kasus di tahun 2008. Artinya ada 425 kasus setiap harinya, dan ini yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan tentunya seperti fenomena gunung es.

Di dunia internasional justru lebih parah, sebagai contoh, dalam tulisannya The Most Dangerous Place on Earth, Dr Shahid Qureshi mempublikasikan bahwa di Amerika terjadi pembunuhan terjadi setiap 22 menit, perkosaan terjadi setiap 5 menit, perampokan terjadi setiap 49 detik, pencurian terjadi setiap 10 detik, dan menghabiskan US$674.000.000.000 setiap tahunnya untuk menangani kriminalitas di negaranya.

Aneh bukan, ada seseorang yang menakutkan penerapan syari’at Islam, tetapi tidak menakutkan kejadian-kejadian yang sudah ada di depan matanya dan dilihat dengan mata dan kepalanya sendiri setiap hari.
3. “Bayangkan kalau tidak ada partai Islam di pemerintahan, dan tidak ada demokrasi, maka gerakan Islam akan diberangus habis, karena itulah kalian harus berterimakasih pada kami dan pada demokrasi!”

Contoh bahasan kita yang terakhir adalah pernyataan ini, seringkali beberapa pengemban dakwah yang saya temui menggunakan kata-kata seperti ini sebagai pembenaran atas tindakan mereka yang plin-plan dan tidak jelas. Ini juga termasuk unreasonable fear. Mereka menakutkan sesuatu yang belum tentu adanya, menakutkan sesuatu yang belum pasti terjadi dan membuang jauh-jauh fakta bahwa saat ini justru telah terjadi sesuatu yang jelas-jelas menakutkan dan mengkhawatirkan. Fakta membuktikan bahwa justru dalam demokrasi, Islam dihinakan dan ummat muslim menghadapi berbagai masalah yang sangat pelik serta dalam sistem seperti inilah harakah Islam tidak memiliki izzah.

Ingat, ketika terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden AS di tahun 2003, Bush menyampaikan pandangannya tentang demokrasi “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Dan atas alasan ”menyebarkan kebebasan dan demokrasi” itulah Irak diserang.

Atas nama demokrasi, AS yang memiliki 10.000 hulu ledak nuklir mendikte negara-negara muslim khususnya untuk tidak mengayakan nuklir dengan NPT (Nuclear Proliferation Treaty), dan membiarkan Israel dan negara-negara yang diinginkannya untuk mengembangkannya.

Dengan restu demokrasi pula pada tahun berkali-kali BBM dinaikkan walaupun ummat tidak menyetujuinya dan hanya perlu persetujuan MPR dan DPR yang notabene katanya wakil dan suara dari rakyat. Sementara kenaikan BBM hanya menghemat 65 triliun rupiah, pemerintah menghabiskan sekitar 300 triliun untuk pemilu 2009 dan membagikan 700 triliun untuk koruptor kasus BLBI

Dalam demokrasilah justru kecenderungan ummat terhadap partai Islam menurun, Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai, jika kita membandingkan Pemilu 1955 dengan Pemilu 1999 terlihat bahwa pemilih partai sekuler meningkat sebanyak 35,6 persen, sedangkan pemilih partai Islam menurun 7,51 persen. Sementara anggota legislatif (DPR) partai-partai sekuler bertambah sebanyak 32,64 persen, sementara anggota legislatif partai-partai Islam menurun sebanyak 9,95 persen. Artinya, ada pembunuhan karakter sistematis yang dilakukan demokrasi terhadap partai Islam dengan membuat partai Islam menjadi partai Islam-sekuler sehingga ditinggalkan oleh basis pemilihnya.

Dan atas peran serta demokrasi, syari’at Islam belum diterapkan sampai sekarang, politik belah bambu antar harakah Islam, penurunan pamor dan elegansi gerak partai Islam, semuanya itu di-amini oleh demokrasi. Saiful Mujani, direktur LSI mengomentari survei yang menunjukkan turunnya kecenderungan masyarakat terhadap partai Islam ”hal ini terjadi karena orientasi nilai politik sekuler di kalangan muslim indo kian menguat. Aktivis islam gagal menerjemahkan nilai politik islam dalam bentuk gerakan dan kekuatan elektoral” (Kompas, 2009)

Dengan tipu daya demokrasi, kemenangan FIS di Aljazair dianulir setelah pada putaran pertama pemilu mereka berhasil mengantongi 80% suara, lalu esoknya muncul pernyataan dari harian Inggris “The Independent”: “Kadang-kadang diperlukan tindakan yang tidak demokratis untuk melindungi demokrasi” . Sama seperti kudeta militer di Turki setelah partai Refah memenangkan pemilu pada tahun 2007. Dan juga politik AS di palestina dengan menarik HAMAS masuk ke dalam parlemen lalu menekan, memenjarakan dan membuang mereka di Gaza. Apakah kita sudah lupa?

Karena demokrasilah, kita diminta mengakui kepentingan-kepentingan asing, mentoleransi kepentingan-kepentingan ummat lain yang berusaha menyesatkan dan memurtadkan umat muslim dengan segala cara mereka, menerima keberadaan ahmadiyah dan segala kesesatannya, membayar hutang-hutang konglomerat dengan pajak yang dipaksakan dan dzalim.

Jadi sebenarnya, pemberangusan kepada partai-partai Islam dan harakah Islam itu telah dilakukan, dan harus dipahami, bahwa pemberangusan ini tidaklah mesti dilakukan secara fisik (anarkis), justru pemberangusan yang dilakukan secara sistematis dan tanpa disadari oleh harakah Islam inilah yang lebih berbahaya. Tetapi fakta yang telah terjadi ini tidak dilihat, malahan sesuatu yang belum jelas dijadikan dalil untuk berbuat.

Yang paling penting. bagi seorang muslim, unreasonable fear ini akhirnya membawa suatu konsekuensi, yaitu bahwa dia lebih percaya dan yakin pada fakta di depan matanya (pragmatis) daripada fakta yang akan dijanjikan oleh Allah SWT (visioner), lebih jauh lagi, dia lebih takut kepada manusia ataupun sesuatu apapun yang bukan Allah dibandingkan rasa takutnya kepada Allah. Dan karena rasa takutnya yang lebih besar kepada manusia ataupun keadaan yang dibisikkan oleh setan, akhirnya dia meninggalkan ketaatan dan mencari dalil untuk membenarkan perbuatannya.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman (TQS ali-Imraan [3]: 175)

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (TQS al-Maaidah [5]: 44)

Allah-lah dzat yang Mahabaik dan Mahatahu, tiada yang berjalan, terbang, merangkak, ataupun melata diatas bumi ini yang lebih tahu daripada Dia. Dialah yang menentukan apa yang kita bisa dan apa yang kita tidak bisa. Dialah sesungguhnya yang benar-benar harus kita takuti.

Kesimpulannya?

1. Maka menikahlah karena Allah telah menjamin untuk mencukupkan rizqi-Nya dan menolong dengan pertolongan-Nya pada orang yang menikah karena-Nya

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (TQS an-Nur [24]: 32)

“Ada 3 golongan manusia yang berhak ditolong oleh Allah, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

2. Maka terapkanlah syari’at Islam karena dengan itu Allah akan menurunkan berkah-berkah dari langit dan bumi dan ummat Islam tidak akan pernah tersesat

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS al-Maaidah [5]: 48)

Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut ialah sesuatu yang jelas yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (Sirah Ibnu Hisyam II, Hal 588)
3. Maka konsistenlah dengan perjuangan Islam sekalipun perjuangan ini meminta nyawa kita. Bukankah dakwah Rasulullah saw. dan para shahabat menuntut pengorbanan harta dan nyawa? apakah kita merasa lebih istimewa dibandingkan dengan Rasulullah dan shahabatnya sehingga kita tidak perlu merasakan makian, kengerian dan goncangan yang mereka rasakan? Bukankah jihad adalah jalan kita, mati syahid adalah harapan yang selalu kita berdo’a untuk itu sebelum tidur? Apa yang membuat kita takut kepada himpitan dan celaan dalam dakwah? takut terahadap pemberangusan? apakah jalan dakwah ini telah jalan orang-orang yang mencintai dunia? Allahummahfidzna min kulli dzalik..

karena saya akan datang kepada kalian dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan (Surat Khalid bin Walid kepada Hormuz-Gubernur Persia)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS al-Baqarah [2]: 214)

Harapannya dari apa yang dicontohkan dengan 3 kasus diatas dapat diterapkan pada kasus-kasus yang serupa sehingga kaum muslim bisa terbebas dari fenomena semacam ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Minggu, 07 Februari 2016

Ritual Remaja di bulan Februari

Hadang Vidi, Lindungi Generasi!

Perayaan Valentine Day alias ViDi paling banyak dinanti di bulan kedua ini. Remaja en remaji sibuk kasak-kusuk cari hadiah untuk sang pujaan hati. Dari sekedar coklat, bunga, boneka cupid, sampe alat kontrasepsi. Hii....ngeri!

Kita nggak bisa berdiam diri. Apalagi cuman jadi penonton sambil sibuk mengomentari. Ayo ambil langkah nyata agar perayaan Vidi nggak ada lagi dalam kamus hidup remaja en remaji. Gempur dengan opini yang menginspirasi. Agar generasi terjaga dari pemikiran liberal dan budaya sesat yang dibenci.

Drise, sebagai majalah remaja Islam peduli dengan kondisi anak muda masa kini. Terutama mereka yang terpapar ide-ide hedonis yang salah satunya berwujud perayaan Vidi. Kami sudah siapkan sebuah buletin anti Vidi untuk dikonsumsi remaja en remaji. Sudah siap cetak dalam bentuk setengah halaman F4 bertajuk HEDONISME VALENTINES DAY!

Bagi yang berminat, silakan download di halaman ini >> http://drise-online.com/download-buletin-drise-anti-vidi/

Kami sudah siapkan dua format file bentuk CDR versi X3 jika akan diedit dan format PDF siap cetak. Kami berharap, buletin ini bisa menjadi ladang pahala kita bersama dengan menyebarkannya edisi cetaknya secara langsung atau sekedar membagikan infonya. Mari hadang vidi dan lindungi generasi! [@Hafidz341]