Nafāis Tsamarāt: Dua Jenis Sabar
Dalam kitab Al-Yatīmah, Ibn Al-Muqaffa’ mengatakan: “Sabar itu ada dua jenis: Kejahatan yang menimpa fisik, dan kedermawanan yang menimpa jiwa. Bukanlah kesabaran jika orangnya dipuji sebagai seorang yang fisiknya kuat berusaha dan bekerja keras, karena ini termasuk sifat keledai. Namun kesabaran itu bagi orang yang mampu mengendalikan diri, mampu memikul setiap urusan, serta tabah memelihara dan menjaga semuanya.” (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn – Karya Al-Mawardi)
Sesungguhnya sabar itu adalah sabar atas bencana, sabar dengan qadha’ (keputusan Allah), yang membuat kamu semakin teguh, tidak membuat kamu labil; semakin membuat kamu berpegang teguh pada al-Kitab, tidak membuat kamu berpaling darinya dengan dalih beratnya musibah yang menimpamu.
Sabar adalah sesuatu yang membuat seseorang bertambah dekat dengan Tuhannya. Tidak membuat seseorang semakin jauh dari Tuhannya. “Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim’.” (TQS. Al-Anbiyā’ [21] : 87)
Sesungguhnya sabar itu adalah yang mempertajam misi, dan yang mendekatkan jalan ke surga. Sebagaimana kesabaran Bilal, Khubab, dan keluarga Yasir, “Tetaplah sabar, keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga”
Seperti kesabaran generasi pertama yang cemerlang dan diberkati, yaitu para sahabat Rasulullah, yang jujur dan terpercaya; seperti kesabaran para sahabat yang menyaksikan perjanjian. Mereka yang diboikot di bukit, mereka yang hijrah ke Habasyi, dan mereka yang dikejar-kejar karena mereka berkata “Allah Tuhan Kami”
Seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar ketika mereka berjihad melawan orang-orang musyrik, Persia dan Romawi; seperti kesabaran tawanan perang kelompok Abdullah bin Abu Khudafah; seperti kesabaran para Mujahid yang beriman, yang benar dengan keimanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar